Minggu, 15 November 2015

KARYA

titik

sinar mentari kan berangkat lagi
roda kan bertemu sang pencari hati
sluruh peluhku tak dapat berhenti
apa jawabMu untukku di sini

izinkan aku kan simpan semua hasratku
bersama selimut kabut pagi ini
tebarkan senyum gapailah indah hidupmu
bersamaKu di sini


dion (jogja 2003)

TELAAH SASTRA

Burns
My luve is like a red, red rose
That’s newly sprung in June
My luve is like the melodie
That’s sweetly played in tune

            Pemahaman mengenai puisi tersebut adalah cinta yang digambarkan dalam sebuah bunga. Kekuatan dalam mengupas kata-kata dalam puisi tersebut membuat pemahaman yang lebih mendalam tentang arti dari puisi. Puisi karya Burn, tidak hanya sebatas puisi, namun penggambaran real akan sebuah kehidupan. Kehidupan manusia yang dipenuhi dengan cinta, sedih, bahagia menjadi satu kesatuan. Pengalaman kehidupan tentu sangat beragam, apabila dikaitkan dengan puisi yang ditulis oleh Burn. Pengalaman kehidupan manusia menjadi cermin bahwa tingkah laku manusia dapat memberikan cermainan pada sebuah karya sastra yang bernilai.
            Kekuatan bahasa puisi karya Burn menunjukkan bahwa permainan kata-kata dalam ritme puisi membuat efek getar pembaca. Estetika pemaknaan warna yang muncul pada bunga mawar mencerminkan bahwa level suatu pemaknaan hidup dapat beraneka ragam. Red-red….merah sampai memerah, pemahaman saya mengenai puisi ini. Tingkat kebermaknaan hidup manusia dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, melihat fenomena hidup juga bisa dipandang dari berbagai persepsi. Kita tidak bisa menjustifikasi bahwa sebuah peristiwa, karena peristiwa yang dialami manusia akan selalu berkembang.
            That’s newly srung in Juni……..kekuatan makna pada kalimat tersebut menggugah pemahaman persepsi tentang cara menikmati sebuah kehidupan. Hidup selalu berubah dan selalu datang sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Ritme dan pola fenomena yang terjadi di dunia akan membuka cakrawala kita untuk memandang hidup menjadi lebih bijaksana. Kita tidak memaksakan apa yang terjadi secara ekstern dengan intern. Terkadang realitas tidak sesuai dengan yang diharapkan. Pluralitas realitas akan memperkaya seseorang dalam memilih dan memilah apa yang akan dikerjakan. Terkadang sesuatu yang diharapkan akan datang dengan indahnya sesuai dengan yang diharapkan, namun ada juga yang tidak sesuai dengan yang kita inginkan.
            Teori New Critisism menggali tentang kedalaman pemahaman untuk memaknai sebuah karya. Karya jangan hanya dipahami untuk memperoleh makna, namun lebih melihat secara ekstrinsiknya artinya melihat fenomena yang real tentang potret kehidupan. Melihat sastra jangan hanya sekadar melihat hal secara dangkal, rangkaian kata dan pemaknaan. Kita dapat melihat sebuah seni sastra dikaitkan dengan sebuah potret kehidupan yang beraneka ragam di masyarakat sosial.
            Puisi karya Burn, mulai berangkat dari sebuah eksotisme kehidupan yang selalu indah. Cinta menjadi getar dunia, membuah realitas hidup menjadi sangat berarti bagi orang yang mengalaminya. Cinta akan berproses menuju pada suatu keajaiban-keajaiban yang kemunculannnya sering tidak di duga. Keharmonisan pada cinta yang terstruktur pada ritme atau lagu akan menimbulkan pada efek estetika yang sangat tinggi. Begitu pula apabila kehidupan kita dikaitkan dengan fungsi harmonisasi aspek kehidupan yang terjadi akan muncul sangat indah. Sastra mengomunikasikan menggunakan bahasa universalnya, menggambarkan bahwa kita memiliki segudang seni, segudang cara pandang, dan masih banyak lagi cara kita menyikapi atau menikmati suatu karya.
            Sastra akan menjembatani fenomena kehidupan manusia yang dapat dibaca dan dinikmati dalam bentuk karya. Contohnya karya puisi yang dibuat oleh Burn. Puisi yang merangkai kata sederhana, namun sarat akan makna. Puisi ini mengkomunikasikan bahwa cinta itu akan membawa sebuah kedamaian di dunia. Bahasa Cinta sangat universal dan perlu direalisasikan pada kehidupan yang real. Teori New Critisism yang berakar pada teori sebelum teori, menggiring pada pemahaman bahwa seni itu dapat dinikmati dan dimaknai sebagai sebuah gambaran realitas hidup yang sebenarnya. Suatu seni hendaknya dikaitkan dengan common sense, arti seni itu mutlak untuk dipahami sebagai sebuah realitas kehidupan manusia yang terdiri dari berneka macam bentuk.

Jakarta, 09 September 2015

YB. Dion Rikayakto

SASTRA POTRET HIDUP MANUSIA

SASTRA ADALAH POTRET REALITAS HIDUP !
Kedekatan sastra denga realitas hidup sangatlah erat. Dimensi yang selalu mendasari roh munculnya kekuatan sastra adalah sebuah realitas kehidupan yang benar-benar dirasakan sebagai sebuah simbol kebenaran sejati. Sastra sebagai sebuah citra potret kehidupan manusia yang paling real. Banyak perpektif mengenai sastra yang bisa dijadikan sebagai acuan untuk mengapresiasinya. Mulai kemunculan teori sebelum teori yang muncul pada tahun 1960an dengan susbtansi pemahaman mengenai common sense kemudian berkembang pada ranah new criticism yang bermuara pada kritik sastra, dalam hal ini memandang sastra selalu melaju pada tataran dimensi yang lebih luas dan menganggap semua hal disekeliling kita harus bisa disebut sebagai sebuah teks.
Namun semua yang dibicarakan tersebut tampaknya lebih condong pada pola pikir barat, sejatinya kita sebagai bangsa timur memiliki falsafah yang cukup kuat untuk melihat sisi dari sastra itu sendiri. Teori Katresnanism, menurut saya adalah kajian yang cukup magis untuk menerjemahkan apa itu sastra. Pada teori ini, sastra diangkat sebagai sebuah roh yang memiliki konsep  pada tataran give (memberi). Banyak sekali hal yang dapat dikaji dari Katresnanism ini, saya tertarik karena apa yang dibicarakan berangkat dari sebuah realitas hidup yang terkonstruksi menjadi sari atau oas (inti) hidup itu sendiri. Luar biasa holistic dan magis implementasi Katresnanism, hal yang terkadang tidak kita pikirkan bisa menjadi sebuah karya yang bisa otentik, inovatif dan memberikan bekal pemahaman mengenai kebenaran hidup sampai pada situasi jiwa yang katarsis.
Saya secara personal sangat tertarik dengan kajian sastra, menurut saya sastra itu bisa mengkodekan keadaan jiwa-jiwa manusia yang selalu dituntun pada sebuah proses kehidupan. Pada situasi hidup yang pernah saya alami menunjukkan eksistensi sastra sebagai sebuah cerminan kehidupan saya. Ini menjadi bahasa yang universal untuk disampaikan, bahwa potret kehidupan manusia sangatlah beragam. Kekuatan dari cipta, rasa dan karsa kita seolah menjadi indra untuk merasakan ketebalan pengalaman hidup yang dituangkan dalam bahasa seni. Sastra menjadi bukti nyata bahwa saya memiliki potret kehidupan yang sangat pahit sekali. Hal ini bisa saya tuangkan dalam karya puisi dengan judul “titik”. Kelihatnnya sangat sederhana, namun di balik kata “titik” tersebut jiwa saya terkoyak, tergerak, berontak untuk kuat dalam menjalani sebuah potret realitas hidup. Mungkin hal ini yang bisa membuat sampai saat ini potret kehidupan saya dapat diabadikan melalui sebuah karya sastra.



Yogyakarta, 30 Agustus 2015

Yohanes Bosco Dion Rikayakto

Kamis, 07 Mei 2009